KENDURI CINTA DI RAMADAN 2017



Ada pemandangan tak biasa yang menghiasi Jumat malamku kemarin. Bersama ratusan Jamaah Maiyah duduk bergelar terpal, menunggu Mbah Nun dan Kyai Kanjeng di depan panggung.


Sebuah suguhan yang sangat menarik. Walaupun dikemas secara sederhana tanpa tata panggung yang megah, ratusan orang mau duduk manis tanpa mau bergeser sedikitpun hingga hampir jam 3 pagi. Tak ada batas diantara kami yang membuat kami yang datang merasa dibeda-bedakan. Dari kelas atas hingga penjual rokok pinggir jalan pun duduk bersama-sama di atas terpal. Asap rokok yang mengepul
dari kiri kanan depan belakang pun seakan tak jadi persoalan. Semua tertawa cekikikan mendengarkan guyonan yang sesekali terlontar dari mulut Mbah Nun.



Dari jam 8 hingga jam 3 pagi kami duduk tanpa mau pindah posisi. Mendengarkan satu demi satu setiap kata yang Mbah Nun ucapkan. Ditambah lagi mendengar beberapa tembang dari Gamelan Kyai Kanjeng yang sangat menghibur.

Suguhan komplit. Sinau bersama Mbah Nun selalu membuat ketagihan. Ketagihan karena beliau mengajak jamaah Maiyah untuk mengenali Tuhannya dengan penyampaian yang bisa diterima. Berbicara tentang keseharian hidup yang disikapi dengan baik dan bijak.

Panggung yang ditata secara sederhana pun membuat saya, sebagai penonton pun merasa tak ada jarak. Penyampaian pesan yang sederhana membuat saya merasa bahwa, mencintai Tuhan tak serumit, tak sekeras, tak se-ndablek yang orang-orang sampaikan.

Tak terkesan menggurui, sinau ini pun dapat menjadi suatu ruang belajar baru buat saya mengenali lebih dalam tentang makna hidup yang sebenarnya.


Terimakasih Mbah Nun
Terimakasih Kenduri Cinta

0 comments: